hello dears this is about my life

Foto saya
Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia
aku hanya manusia biasa :)

Jumat, 07 Oktober 2011

KETIDAK ADILAN


==..==..== tulisan di blog ini bukan untuk menghakimi seseorang atau instansi tertentu , hanya sekedar mengexplor kekesalan yang aku rasakan,jadi bila ada yang merasa demikian mohon untuk tidak tersulut amarahnya ==..==..==

                Ini merupakan salah satu cerita ketidakadilan dalam negeri ini.Jangan jauh-jauh meninjau suatu masalah ketidak adilan yang ada di negeri yang besar ini.aku akan lebih mengkhususkan masalah ketidak adilan yang terjadi di daerahku.
                Aku bersekolah di salah satu SMA negeri favorit di daerahku. Sekolahku punya banyak saingan dalam prestasi yang diukir. Salah satunnya SMA yang berada di daerah kota,sebut saja SMA X . Sudah merupakan rahasia umum (bukan rahasia lagi dong…) kalau sekolahku dan sekolah X merupakan musuh bebuyutan , entah dari zaman apa itu bermula.
                Jujur saja awalnya aku tidak terkontaminasi dengan predikat musuh bebuyutan itu,aku hanya orang netral saja yang sekolah murni karena ingin menambah wawasan dan ilmu pengetahuan saja.Tapi setelah beberapa bulan menjalani sekolah, “virus” pertentangan itu mulai merasuk juga dalam diriku. Aku jadi ikut-ikutan tidak suka terhadap siswa-siswi SMA X tersebut,karena tingkah pola mereka yang terkesan angkuh dan meremehkan siswa dari SMA lain. Sampai-sampai teman se-SMPku dulu pun terasa menghina dan merendahkan siswa SMA lainnya. Ukh , betapa tidak menyenangkannya berada dalam situasi seperti itu. Aku bukannya menyimpan dendam terhadap mereka,hanya saja api ketidaksukaan itu mulai menyulut emosi dalam hatiku sehingga perasaan benci mulai menjalar (astagfirullah).
                Aku tidak pernah mempermasalahkan di mana aku sekolah, di SMA faforit atau tidak , di SMA termahal atau tidak , di SMA unggulan atau tidak. Aku hanya ingin mempunyai banyak teman yang bisa sharing segala macam persoalan yang ku hadapi. Tapi kalau SMA X tersebut menghina dan meremehkan SMAku , aku juga tidak akan tinggal diam.
                Sampai suatu hari , ada lomba tingkat kabupaten yang diadakan di daerahku,yaitu lomba Drumband. Tentu saja sekolahku ikut,karena Drumband merupakan salah satu aset prestasi dari sekolahku yang begitu menonjol.Bukannya sombong atau apa , tapi sekolahku merupakan sekolah yang memiliki Drumband terbaik di daerah kami. Penilaian ini bukan hanya dari aku pribadi saja. Masyarakat juga menilai demikian. Teman-temanku yang ikut Drumband itu sangat antusias dengan adanya even ini. Mereka siap menunjukkan yang terbaik untuk mengharumkan nama sekolah.Betapa berkobarnya semangat perjuangan untuk meraih kemenangan. Siang malam mereka berlatih untuk even bergengsi ini .Mereka semua tidak pernah mengeluh bahkan lelahpun tak terasa lagi. Sampai saat berlangsungnya lombapun , mereka masih semangat dan antusias.
                Keadaanpun berubah, saat pengumuman lomba tersebut di umumkan. Sekolahku harus puas hanya dengan juara ke-III saja. Tentu saja mereka semua kecewa . Mereka semua tidak menyangka hal itu akan terjadi. Usaha keras mereka selama ini ternyata sia-sia belaka. Jangankan kami para siswa yang tidak menyangka kekalahan itu teradi , para guru , wali murid dan masyarakat luas pun bertanya-tanya mengapa hal tersebut sampai terjadi. Tapi tentu saja kami berusaha untuk berlapang dada , mencoba ikhlas menerima kenyataan itu. Para guru pun terus memotivasi kami untuk tetap berjuang dan bangkit dari keadaan ini. Memang rasanya sulit untuk bangkit dari image yang sudah down ini.
                Tapi kami terus berusaha jadi yang terbaik untuk sekolah kami. Setelah kami mulai bisa menerima situasi tersebut . Muncullah segelintir gosip atau opini tentang lomba itu . Ternyata kami kalah merupakan suatu rekayasa dari pihak yang berkepentingan. Karena predikat juara ternyata sudah “dipesan” oleh sekolah X tersebut. Hmm , sungguh aneh. Sekolah yang “Katanya” sekolah berpendidikan dan unggulan di daerah kami melakukan hal yang tidak semestinya begitu.
                Apa daya , nasi sudah menjadi bubur. Pialapun sudah di tangan pemilik “palsu”nya , jadi kami tidak bisa memprotes lagi. Kami hanya sabar menghadapi diskriminasi di daerah ini. Ternyata Tuhan itu Maha Adil . Walaupun kami tidak mendapat juara I dalam ajang kabupaten itu tapi salah satu teman kami mendapat Juara I lomba KTI tingkat nasional dengan mengalahkan 7 finalis lainnya yang merupakan Sekolah Berstandar Internasional. Hal ini sungguh sangat membahagiakan kami,karena kami satu-satunya Sekolah Bertaraf Nasional yang menjadi kandidat 7 besar finalis lomba KTI nasional itu.  Tentu saja predikat Juara kabupaten itu tidak sebanding dengan predikat Juara Nasional tersebut. Satu hal yang saya pelajari dari kejadian ini “Merk tidak menentukan kualitas sepenuhnya”.Mungkin inilah hikmah yang kami dapat dari hasil diskriminasi terhadap sekolah kami.Salah satu guru kami pun memberikan motivasi yang nyatanya sangat ampuh untuk kami dan sesuai dengan keadaan kami sekarang.

“KAMI BUKANLAH YANG TERFAVORIT TAPI KAMILAH YANG TERBAIK”

“DO THE BEST”

rya_aJjach

Tidak ada komentar:

Posting Komentar